Revitalisasi Gelap Nyawang

LATAR BELAKANG

Tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang (Konsepsi Kemahasiswaan KM ITB) :

  1. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya
  2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan
  3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat

Mahasiswa merupakan salah satu komunitas kampus yang tergabung dengan komponen masyarakat kampus lainnya, pegawai, dosen dan karyawan yang memiliki tugas dan perannya masing-masing. Walaupun begitu, semua elemen kampus ini menyatu dalam civitas akademika perguruan tinggi, dan mengemban misi Tridharma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kemudian mahasiswa sebagai insane akademis dituntut untuk berperan dalam dua fungsi. Pertama, mahasiswa dituntut untuk terus berupaya mengembangkan diri menjadi lapisan masyarakat masa depan yang berkualitas sebagai calon sarjana. Kedua, dengan berlandaskan nilai ilmiah dan moralitas, mahasiswa dituntut untuk aktif bergerak ikut menata kehidupan bangsanya.

Landasan Tridharma dan tugas perguruan tinggi, seharusnya sudah cukup sebagai alasan kita sebagai mahasiswa untuk bergerak dan berkontribusi untuk masyarakat. Sudah seharusnya ITB sebagai institusi terbaik bangsa turut memperhatikan keadaan sekeliling dan peduli dengan kondisi mereka. Miris rasanya jika mahasiswa mengadakan event yang menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk bersenang-senang sementara masih ada warga sekitar kampus ITB yang belum tahu apakah besok bisa makan.

Gelap Nyawang sebagai komunitas yang paling dekat dengan mahasiswa ITB, sudah sepantasnya mendapatkan perhatian dan kepedulian kita.

SEJARAH

Gelap Nyawang merupakan salah satu daerah disekitar ITB yang terkenal sebagai tempat makan. Gelap Nyawang itu sendiri dulunya tidak lain hanyalah sebuah nama jalan. Bermula dari keinginan rektor Kusmayanto Kadiman untuk membentuk ITB sebagai kawasan percontohan, dengan ITB sebagai wisata iptek, Salman sebagai wisata spiritual, dan Gelap Nyawang sebagai wisata kuliner. Awalnya pedangang kaki lima banyak sekali berjualan di jalan Ganesha, sehingga menjadikan jalan Ganesha terlihat semrawut. Dikarenakan kebutuhan akan tempat parkir juga, maka kementrian Kimpraswil menyusun acara besar untuk memperindah jalan Ganesha dan membuat tempat parkir.

Rencana besar itu adalah jalan Ganesha –jalan diantara Ciung Wanara dan Taman Sari- akan jadi jalan dalam kampus ITB, dan akan ditutup di kedua sisi tersebut. Semua mobil dan kendaraan bermotor akan masuk kampus ITB dari jalan Skanda (dari jalan Gelap Nyawang). Kemudian PKL di jalan Ganesha akan dipindahkan ke jalan Gelap Nyawang dna dibuatkan kios-kios baru. Dan demi terlaksanannya ITB dan sekitarnya sebagai kawasan percontohan, maka pedagang jalan Ganesha yang dipindahkan ke Gelap Nyawang, akan diberi pembekalan-pembekalan.

Kios-kios di Gelap Nyawang sendiri terbagi menjadi dua bagian, daerah timur dan daerah barat. Daerah timur terbentang mulai dari ujung jalan Gelap Nyawang yang berdekatan dengan Bumi Medika Ganesha sampai daerah di depan Bank Muamalat, dan sisanya adalah daerah barat. PKL jalan Ganesha sendiri terdiri dari penduduk pribumi dan pendatang. Penduduk pribumi diberi kewenangan untuk memilih lebih dulu daerah mana yang akan mereka tempati untuk berjualan. Dengan pertimbangan letak yang strategis karena di persimpangan jalan Taman Sari, maka mereka memilih daerah Barat, sedangkan daerah Timur untuk pendatang.

Maka berbondong-bondonglah seluruh PKL jalan Ganesha memindahkan dagangannya ke Gelap Nyawang. Mereka pun sudah disediakan kios dengan model food court. Namun, setelah pindah ke Gelap Nyawang (kira-kira tahun 2002), penduduk pribumi yang memilih daerah Barat mulai merasa salah mengambil keputusan. Para mahasiswa yang ingin makan, yang keluar langsung dari Salman, justru langsung menyerbu warung daerah Timur, karena lebih dekat. Para pedagang Barat yang tidak ingin dagangannya rugi kembali berjualan di jalan Ganesha sementara kios mereka disewakan (beberapa). Semakin lama, mulai berdatangan pedagang baru ke jalan Ganesha, dan jalan Ganesha masih belum bersih dengan pedagang kaki lima sampai saat ini.

Masalah mulai timbul kira-kira lima tahun lalu, tahun 2003, ketika ada pasar yang dipindahkan di sekitar situ. Pasar itu adalah Pasar Balubur. Rencananya pasar itu hanyalah sementara, namun sampai saat ini pasar tersebut belum dipindahkan kembali. Pasar Balubur memiliki 238 ruang dagang dengan 178 pedagang aktif dan 5 pedagang tidak aktif (Dinas Pasar Kota Bandung tahun 2003). Masalahnya bukan pada pasar yang tiba-tiba hadir dan turut menjadi komunitas disana, tetapi sampah yang dihasilkan oleh pasar tersebut. Pasar Balubur –juga pasar-pasar lainnya- memiliki sampah yang menggunung setiap hari, dan sampah itu dibuang persis dibelakang kios Gelap Nyawang sebelah Barat. Berbeda dengan sampah pasar Dago yang diangkut setiap pagi, sampah pasar Balubur ini dibiarkan dulu baru kemudian setelah beberapa hari datang mobil sampah untuk mengangkut.

Hal ini tentu saja membuat konsumen agak takut untuk makan di Gelalp Nyawang daerah Barat, karena bau sampah yang menyengat, apalagi sampah tersebut adalah sampah organic berhari-hari yang lalu. Tidak cukup masalah sampah Balubur, pedagang Barat juga terganggu dengan kuda yang suka mampir di kios kosong di daerah Barat. Hal ini terjadi karena ada pedangang Barat yang menyewakan kiosnya, sehingga dibiarkan kosong dan memberikan tempat untuk si kuda . Masalah beruntun yang terjadi pada pedagang Barat, membuat hubungan antara pedagang Barat dan Timur tidka terlalu baik. Ditambah lagi para pedangang Timur semakin memiliki banyak pelanggan sedangkan pelanggan Barat terus berkurang. Masalah ini masih berlanjut sampai sekarang.

GELAP NYAWANG IDEAL

Gelap Nyawang ideal adalah gelap nyawang sebagai komunitas kreatif dan mandiri yang menjadikan kemampuan memasak sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, dan menjadi salah satu tujuan wisata kuliner terkenal Kota Bandung. Para pedagang Gelap Nyawang menyadari potensi mereka sebagai tujuan wisata kuliner dan memiliki paradigma serta pengetahuan baru dalam menjalani usaha di bidang kuliner. Paradigma ini diharapkan dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku mereka yang diwujudkan dalam penerapan nyata di lapangan, serta mampu melanjutkan usaha mereka secara berkelanjutan dan mandiri.

Tujuan akhir revitalisasi ini adalah :

  1. Menjadikan Gelap Nyawang sebagai sebuah komunitas kreatif dan mandiri yang menjadikan kemampuan memasak sebagai pemenuhan kebutuhan hidup.
  2. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa ITB untuk menyalurkan potensinya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat Gelap Nyawang.
  3. Gelap Nyawang menjadi salah satu tujuan wisata kuliner.

ANALISIS KONDISI PEDAGANG

Untuk mencapai kondisi yang ideal diperlukan transformasi dengan melibatkan seluruh elemen terkait. Agar transformasi dapat terwujud, selain kondisi ideal yang diinginkan diperlukan juga pemahaman terhadap kondisi pedagang Gelap Nyawang sekarang, agar dalam penyusunan langkah tidak terjadi distorsi dan disorientasi. Hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan terhadap karakteristik masyarakat Gelap Nyawang, dan setelah itu dapat dilakukan penilaian terhadap factor penentu dalam pemetaan yang sudah dilakukan. Setelah penilaian dilakukan, penentuan prioritas langkah dapat ditentukan.

Pemetaan kondisi masyarakat Gelap Nyawang

Dari hasil pembahasan akan ditemukannya hubungan saling keterkaitan antara elemen yang satu dengan lainnya. Kesejahteraan dipengaruhi aspek capital dan kperasi dan kesejahteraan akan mempengaruhi tingkat pendidikan dan pembangunan fisik. Aspek capital akan dipengaruhi oleh koperasi dan mempengaruhi kesejahteraan dan pembangunan fisik seperti telah dijelaskan sebelumnya. Kemudian kemandirian dapat dicapai dari aspek capital, kemandirian financial, tidak lagi bergantung pada koperasi ataupun rentenir.

Aspek pendidikan akan dipengaruhi oleh kesejahteraan dan akan mempengaruhi tingkat kreativitas dan pembentukan karakter. Dan kemandirian dapat dicapai dengan tingkat kreativitas, melalui skill.

Kemudian diperlukan factor eksternal sebagai katalis terhadap kreatif dan mandiri ini, yaitu adanya komunitas yang mendukung. Dalam hal ini komunitas UKM mandiri akan memicu kemandirian serta kekreatifitasan pedagang untuk mengembangkan usahanya. Dan agar revitalisasi ini berhasil, kegiatan ini harus dilakukan secara kontinu. Kemandirian mereka haruslah kontinu dna pembangunan fisik tidak akan bisa dilakukan hanya dalam waktu setahun.

pemetaan-gawang

Dari gambaran diagram diatas, akan didapat 3 aspek utama yang perlu dibenahi untuk mewujudkan masyarakat Gelap Nyawang yang kreatif dan mandiri, yaitu

  1. Capital
  2. Human (pendidikan)
  3. Fisik

Penilaian terhadap kondisi masyarakat Gelap Nyawang

  • Capital

Dari aspek capital, cukup banyak permasalahan yang ada pada pedagang Gelap Nyawang, yaitu

a. Manajemen keuangan

Menurut hasil survey beberapa waktu lalu, hanya segelintir pedagang saja yang memiliki pembukuan terhadap pengeluaran dan pemasukan mereka.

b. Pemasaran / marketing

Tentu saja diperlukan strategi pemasaran yang baik agar warung mereka tetap bertahan.

c. Peran koperasi yang tergantikan oleh rentenir

Di Gelap Nyawang terdapat sebuah koperasi ‘Makmur Jaya’ yang letaknya disebelah de Plot. Namun sayangnya warga lebih suka meminjam uang dari rentenir dari pada di koperasi. Hal ini dikarenakan sulitnya birokrasi untuk meminjan uang di koperasi. Dan pedagang Gelap Nyawang ini pun meminjam uang bukan untuk hal-hal yang penting, tapi hanya sekedar untuk kebutuhan tersier mereka. Dan mereka mudah diprovokasi oleh sang rentenir, menyebabkan banyak pedagang terjerat rentenir.

  • Human

Dari aspek human, cukup banyak permasalahan yang ada pada pedagang Gelap Nyawang, yaitu

a. Kurangnya hospitality

Suatu hal yang menyenangkan bagi pedagang jika melihat senyuman di muka pelanggannya, dna akan kembali mendatanginya. Memang masalah ini tidak terjadi di semua warung Gelap Nyawang, namun cukup banyak pedagang yang melupakan bahwa hospitality merupakan hal penting ketika membuka usaha kuliner. Kurangnya hospitality akan berdampak pada citra dan image warung pedagang tersebut.

b. Kemampuan memasak dan variasi makanan

Jika kita perhatikan warung Barat, maka jenis makanan yang akan kita temukan adalah lotek, karedok, dan sebagainya. Kurang bervariasi sehingga menyebabkan pelanggan mudah bosan. Lain lagi dengan pedagang sebelah timur, mereka sudah cukup kreatif mengolah menu makanan namun tetap saja masih terdapat kesamaan menu antara warung satu dengan lainnya. Variasi manu makanan dapat menjadi nilai tambah bagi warung tersebut, dan sebagian pedagang sudah mulai menyadari hal ini.

c. Kerukunan antar pedagang

Seperti sudah dipaparkan pada sejarah Gelap Nyawang, keadaan pedagang barat dan timur tidak terlalu baik. Dan keadaan di internal timur sendiri juga memiliki masalah. Kurang menghargainya antara pedagang satu dengan yang lain, persaingan tidak sehat yang terjadi antar pedagang hanyalah segelintir permasalahan yang terjadi. Tak jarang pedagang yang satu melakukan sabotase terhadap pedagang lain yang pelanggannya lebih banyak.

d. Pola pikir jangka pendek

Pola pikir yang hanya sampai besok hari, adalah pola pikir general pada pedagang Gelap Nyawang. Ketika melakukan wawancara yang cukup representative, kebanyakan pedagang sudah puas jika kebutuhan untuk esok hari sudah terpenuhi, asalkan besok masih bisa jualan mereka sudah puas. Padahal keadaan lain seperti sakit atau bencana lainnya adalah hal-hal tidak terprediksi yang juga harus dipersiapkan.

e. Pengetahuan yang terbatas dari sisi akademik dan keagamaan

Akan sangat miris jika pengetahuan mereka akan akademik dan keagamaan kurang jika kampus ITB dan Salman hanya berada beberapa meter didepan mereka. Terlihat dari karakter mereka yang suka akan persaingan tidak sehat dan menjatuhkan yang lain. Serta rawannya premanisme di daerah tersebut.

f. Kurangnya jiwa entrepreneurship

Jiwa entrepreneurship sangat dibutuhkan jika kita ingin membuka usaha sendiri. Dan belum semua pedagang memiliki sense ini.

Enterpreneurship harus didukung oleh adanya inovasi, diarahkan oleh adanya visi, dan harus dijalankan dengan action.

g. Anak-anak pedagang yang kurang diperhatikan

Jika kita berkunjung ke Gelap Nyawang akan terlihat anak-anak berkeliaran dan bermain sesame mereka. Namun masalahnya adalah kurangnya pendidikan dari orang tua mereka. Mereka seharusnya belum mengetahui hal yang belum saatnya mereka ketahui, namun yang terjadi pada anak-anak Gelap Nyawang adalah mereka mengetahui hal-hal sebelum saatnya. Kurangnya perhatian dari orangtua dan mungkin guru di sekolah dan lingkungan yang kurang mendukung mungkin adalah factor pemicu terjadinya hal ini.

  • Fisik

a. Kebersihan dan sanitasi lingkungan

Kebersihan merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan pengusaha kuliner, karena ia akan berurusan dengan kesehatan pelanggannya. Setelah survey, kebanyakan pedagang hanya mencuci piring sekenanya. Tidak mencuci secara benar. Padahal kebanyakan pelanggan akan memperhatikan masalah kebersihan.

b. Saluran pembuangan/drainase

Drainase adalah Prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air dan atau ke bangunan resapan buatan (sumber: Balitbang PU).

Drainase perkotaan adalah Drainase di wilayah kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia (sumber: Balitbang PU).

Fungsi drainase adalah :

  • Mengeringkan daerah becek dan genangan air
  • Mengendalikan akumulasi limpasan air hujan yang berlebihan
  • Mengendalikan erosi, kerusakan jalan dan bangunan

Tujuan drainase :

  • Menjamin kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
  • Melindungi alam dan lingkungan
  • Menghindari bahaya, kerusakan materil, kerugian dan beban-beban lain yang disebabkan oleh amukan limpasan banjir.
  • Memperbaiki kualitas lingkungan
  • Konservasi sumber daya air

Jenis drainase :

  • Drainase tertutup

Mengalirkan air, baik yang sudah tercemar maupun yang belum. Saluran ini dibangun untuk daerah dengan kepadatan tinggi dan lahan yang sempit.

  • Drainase terbuka

Menyalurkan air yang belum tercemar / kualitasnya tidak membahayakan. Lokasinya terletak pada daerah yang masih tersedia lahan serta tidak pada daerah yang sibuk.

Drainase yang terdapat di Gelap Nyawang adalah drainasae terbuka, dimana limbah kotor tidak boleh bercampur dengan limpasan air hujan di drainase. Namun, kasus yang terjadi adalah hampir semua pedagang membuang limbah memasaknya di drainase ini, padahal itu tidak boleh dilakukan. Dan hal ini menyebabkan seringnya terjadi bentrok antara pedagang Gelap Nyawang dengan petugas PDAM.

c. Atap asbes

Asbes atau asbestos adalah salah satu bahan tambang yang bisa ditemui dengan mudah di dunia dalam bentuk benang serat atau gumpalan serat. Bahan ini memiliki kekuatan dan ketahanan tinggi terhadap api, panas serta zat kimia. Tetapi tidak bisa diuraikan oleh alam. Asbes banyak digunakan dalam berbagai aplikasi, dan asbes digunakan sebagai atap bangunan di warung-warung Gelap Nyawang.

Mengapa asbes berbahaya? Kerusakan pada material yang mengandung serat asbes ini akan menimbulkan debu asbes. Hal ini sangat berbahaya jika sampai terhirup dan masuk ke paru-paru. Dan dampak akibat asbes baru akan timbul dalam jangka waktu 10 – 50 tahun.

Beberapa penyakit yang disebabkan oleh asbes yaitu (ochaonline.un.org/OCHALinkClick.aspx?link=OCHA&DocID=1005454):

  • Asbestosis, penyakit yang ditimbulkan karena menghirup debu asbes dalam konsentrasi cukup tinggi. Ditandai dengan batuk akut dan nyeri di dada. Pada asbestosis lanjut bisa meningkat menjadi kanker paru-paru.
  • Kanker paru-paru, penyakit ini lebih banyak muncul jika seseorang terus menerus bekerja dalam lingkungan yang terkontaminasi asbes. Para perokok cenderung lebih beresiko dibandingkan bukan perokok bila menghirup debu asbes.
  • Mesothelioma, tumor ganas pada membrane paru-paru. Selain mengenai orang yang bekerja pada lingkungan asbes tinggi bisa juga menyerang keluarga yang tinggal serumah dengan orang yang terkena atau orang yang tinggal di dekat sumber pencemaran asbes.
  • Penyebaran penebalan pleura, muncul pada membrane paru-paru (pleura) yagn tergores oleh serat asbes. Daerah yang terkena disebut plak pleura. Penyakit ini bersifat kronis dan belum ada obatnya.\

d. Bau sampah dari pasar Balubur

Sampah Balubur setiap harinya menghasilkan sampah, namun sayangnya sampah ini tidak setiap hari diangkut seperti halnya sampah pasar simpang Dago, sehingga sampah yang menumpuk akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Yang terkena dampak dari sampah Balubur ini adalah pedagang Gelap Nyawang bagian barat.

e. Kuda dan kotorannya

Jelas sekali kotoran kuda sangat mengganggu perdagangan kuliner. Kuda-kuda tersebut biasanya akan berhenti di depan Gelap Nyawang, karena pelanggan kuda biasanya akan berhenti untuk makan di Gelap Nyawang

f. Taman di depan Warung

Di depan warung-warung akan kelihatan beberapa taman, namun sayangnya taman-taman ini kurang tertata dengan baik. Jika lebih dipelihara dan ditata dengan benar makan akan memberikan nilai tambah untuk warung-warung di Gelap Nyawang itu sendiri.

g. Lay-out dan tata letak

Lay-out awal dari warung Gelap Nyawang adalah model foodcourt, namun karena beberapa hal diubah seperti sekarang ini. Perlu pengubahan layout sehingga pelanggan tidak merasa bosan dan merasa nyaman kerika makan di warung tersebut.

h. Penerangan yang kurang memadai

Sumber penerangan hanya ada di bagian timur, sedangkan di bagian barat tidak ada sumber penerangan. Berdasarkan hasil survey, kebanyakan pelanggan warung Gelap Nyawang mengeluhkan tentang kurangnya penerangan di Gelap Nyawang.

i. Jalan yang rusak

Dapat kita lihat, jika kita ingin berjalan ke Ganesha Stationary ataupun ingin berjalan ke arah taman sari, jalan yang berlubang dan becek ketika hujan sangat mengganggu pelanggan untuk datang ke warung Gelap Nyawang.

Penentuan Prioritas Langkah

Untuk melakukan perbaikan terhadap ketiga aspek tadi, diperlukan pendekatan terlebih dahulu terhadap warga Gelap Nyawang secara personal. Jika kita ujug-ujug datang kemudian mengundang mereka pada pelatihan dan memperbaiki warung mereka, tidak ada yang bisa menjamin bahwa ke-bertahan-an apa yang telah diberikan pada mereka akan bertahan lama. Hal ini dikarenakan mereka belum memiliki rasa sense of belonging terhadap apa yang diberikan. Belum menemukan alasan mengapa pemberian itu harus dipertahankan dan dipelihara. Karena itulah perlu pendekatan agar tumbuh rasa itu pada diri mereka sehingga pemberian apapun yang akan diberikan akan dipelihara dengan baik.

Kita (staf Revitalisasi Gelap Nyawang) hanya bertindak sebagai katalisator, agar mereka sadar dan memiliki keinginan untuk memperbaiki warung mereka.

Seperti analogi Batman –yang sangat suka diceritakan oleh Pimpro– , Batman itu ada agar masyarakat Gotham juga ikut berani menumpas kejahatan bersamanya. Batman tidak mungkin mampu mengelah kan seluruh penjahat kota Gotham sendirian. Ia tidak mungkin mampu melawan Joker, Penguin, Iceman, The Riddler, Two Faces sendirian. Ia butuh bantuan masyarakat Gotham. Agar nanti setelah Batman tidak ada lagi, masyarakat Gotham tetap memiliki keinginan untuk menumpas kejahatan.

a. Fase Pendekatan

Fase pendekatan ini sendiri akan dibagi menjadi pendekatan terhadap anak-anak dan orang tua. Menggunakan metode pendekatan top-down dan bottom-up secara parallel, agar eskalasi dan aselerasi progressnya dapat berlangsung dengan cepat.

  • Pendekatan ke anak-anak (Bottom-Up)

Anak-anak Gelap Nyawang butuh perhatian lebih. Metode yang akan digunakan adalah dengan mengajak mereka belajar dan bermain bersama. Sebelumnya Garda Ganesha (GG) juga seudah pernah mengajak mereka belajar bersama, sehingga yang akan dilakukan hanyalah tinggal melanjutkan apa yang telah GG rintis. Mengajak mereka belajar setiap pekan akan menambah kedekatan kita pada mereka

  • Pendekatan ke orang tua (Top-Down)

Masyarakat Gelap Nyawang suka mengadakan kumpul rutin hanya untuk sekedar main bola bersama dan kerja bakti. Sehingga kita akan mengadakan kegiatan kumpul ‘Ngariung’ rutin, untuk mendengar permasalahan yang mereka hadapi. Metode lainnya yaitu kerja bakti, pengajian, dan kunjungan warung.

Warga Gelap Nyawang memang sudah memiliki jadwal kerja bakti, dan kita tinggal ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Untuk pengajian, akan dilakukan koordinasi dengan Salman. Asrama putra dan asrama putri Salman akan ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan pengajian.

Kunjungan warung ini akan dilakukan minimal dua minggu sekali, dengan masing-masing warung memiliki penanggung jawabnya.

b. Fase Pelatihan

Fase pelatihan akan dilakukan setelah fase pendekatan selesai yaitu kira-kira bulan Desember. Pelatihan yang akan diadakan adalah sanitasi, kewirausahaan, dan kreativitas memasak.

Pada pelatihan sanitasi akan ditekankan pentingnya kebersihan dalam menjalani usaha kuliner. Dalam pelatihan kewirausahaan akan dibangun sense entrepreneurship warga agar mereka memiliki inovasi dalam menjalankan usahanya. Sedangkan pelatihan kreativitas memasak tujuannya adalah untuk memicu kreatifitas pedagang untuk menciptakan menu makanan baru, serta mengetahui teknik yang benar dalam memasak. Ketiga pelatihan ini akan memakai system raport yang akan dikontrol setiap minggunya oleh orang yang telah berpengalaman. Kemudian puncak dari pelatihan yang telah diberikan adalah festival makanan Gelap Nyawang yang akan diadakan pada bulan Maret. Untuk memicu perkembangan positif dari masing-masing warung, hanya warung dengan nilai raport bagus yang bisa mengikuti festival makanan.

Dan untuk himpunan yang sulit melakukan pengabdian masyarakat dengan basis keprofesiannya, akan dibuat suatu system yang akan memungkinkan mereka membantu para pedagang Gelap Nyawang dengan modal yang mereka miliki.

c. Fase Pembangunan Fisik

Fase pembangunan fisik akan dilakukan bekerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya untuk memperbaiki drainase, diperlukan partisipasi dari HMTL, untuk lay-out tata letak IMA-G dan KMSR, untuk masalah penerangan HME.

Selain partisipasi himpunan, dukungan dari berbagai pihak yang peduli terhadap perkembangan Gelap Nyawang sangat diperlukan.

Akhirnya program ini tidak akan berjalan dengan baik, jika tidak adanya kekonsistenan dari masing-masing pihak, baik tim PM-Gelap Nyawang maupun dari pedagang itu sendiri. Dan untuk menghasilkan Gelap Nyawang yang mandiri dan kreatif membutuhkan waktu yang tidak singkat, dan harus berkelanjutan.

“Dari sekian banyak orang yang melihat apel jatuh, cuma Newton yang bertanya kenapa.

Dari sekian banyak orang yang melihat masalah, cuma kalian yang bertindak nyata.”

- Mentri Pengabdian Masyarakat KM ITB 08/09-

5 Responses

  1. oh,ini proyeknya PM di nyawang ya ukh…
    ok,ok.
    apa yang bisa saya bantu?

    Sari says : “Teteh… ajakin anak TL yg lain buat gabung di proyek ini.. biar rame..”

  2. “Dan untuk himpunan yang sulit melakukan pengabdian masyarakat dengan basis keprofesiannya, akan dibuat suatu system yang akan memungkinkan mereka membantu para pedagang Gelap Nyawang dengan modal yang mereka miliki.”

    mo nanya donk, modal yang dimaksud di sini tuh investasi, pinjaman, atau hibah ?
    soalny klo berbentuk investasi, gw utusan dari LDPS MIM mo ikutan,,makasi..

    Sari says : “belum didiskusikan bentuk pastinya. Mungkin investasi, biar ada untung di kedua pihak. Rencananya mau diskusi bareng SBM atau LPES Salman. Ntar klo ada perkembangan dikasi tau deh..”

  3. assalamu’alaykum wr wb

    ayo, kontennya dipublikasikan lebih gencar lagi…
    di imaG belum panas…
    eh ada anak G yang ikut panitia ga?

    Sari says : “sip.. ini juga mau publikasi setelah liburan.. mungkin perlu roadshow ke himpunan2 juga yah, biar pada tau…
    anak G? anak imaG? sejauh ini blm ada.. tertarik bergabung?”

  4. kalo mau gabung ke mana?

  5. oiya, saya anak TPB..

    Sari says : “Wah, silakan klo mau bergabung.. Dengan senang hati kami akan menerima kamu.. gak akan di ospek dulu kok.. hehe..”

Leave a Reply