Tentang Cililin : Instrumen Instrospeksi Diri

31 Aug

bismillahirrahmanirrahim..

Tgl29-31 Agustus 2008 ini, PM KM ITB mengadakan kegiatan ‘PM Goes to Cililin’ yang turut mengajak seluruh civitas kabinet KM ITB untuk berpartisipasi.

Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah :

  1. Membantu teman2 desa binaan untuk survey
  2. Sebagai sarana kaderisasi staf2 PM
  3. Menumbuhkan sense peduli sekitar pada mahasiswa umumnya, staf PM khususnya

Persiapan telah dilakukan jauh2 hari sbelumnya. Faris, pimpinan proyek Desa Binaan, berperan sebagai koordinator lapangan. Briefing terakhir dilakukan pada hari Kamis, 28 Agustus 2008. Saat itu kepastian peserta yang ikut ada 18 orang.

Hari-H. 29 Agustus 2008. Jam 18.30. Aku buru2 ke Gerbang Ganesha, dan ternyata baru ada Faris dan Babang. Menunggu yang lain. Tak lama, muncul Haikal, Yuyun, Mirna, dan Lia. Babang yang bertugas sebagai penanggung jawab keberangkatan segera mencari angkot. Peserta awal sebanyak 18 orang tereduksi menjadi 8 orang. Babang sebagai penanggung jawab keberangkatan segera mencari angkot.

Then, Kak Raka muncul dan ingin ikut. Ia menawarkan mobilnya. Karena akan terlalu mahal jika kami yang hanya sedikit ini membayar ongkos angkot. Faris pun berdiskusi dengan sang tukang angkot, cukup lama.

7.32pm. Kita belum berangkat dan masih di Gerbang Ganesha sambil menunggu Kak Raka mengambil mobilnya.

8.03pm. Kak Raka datang dengan mobilnya. Aku, Yuyun, Mirna dan Lia naek mobil Kak Raka. Faris bawa motor, dan Haikal berdua dengan Babang. Kita berangkat, ditemani dengan rintik hujan. bismillahirrahmanirrahim..

8.34pm. Kita udah di Pasopati. Babang memimpin di depan dan Faris mengawal kami dari belakang. kemudian, tiba2 saja hal yang menegangkan terjadi. Motornya Babang meliuk-liuk ga jelas. Untung aja Pasopati lagi sepi. Babang berhasil mengendalikan motornya. Ga kebayang gimana kalo Babang ga bisa mengendalikan motornya, dan mereka terlempar kebawah. Atau gimana kalo Pasopati rame dan mereka ketabrak mobil… Alhamdulillah ga ada apa2. Ternyata ban motor nya Babang kurang angin. Dan mereka -Babang dan Haikal- akan menyusul  besok pagi.

8.54pm. Kita memasuki jalan ke Gunung Batu. Masih jauh…

9.46pm. Kita udah di depan gerbang desa. Karena jalan masuknya terjal banget, jadi kita -Aku, Yuyun, Mirna, dan Lia- naek pick up yang sudah disediakan Kak Oka. Wah, ini pengalaman pertamaku naek pick up…

Pick up mulai jalan. Jalannya ga rata dan berlubang2.

10.20pm. Masih di pick up. Tanjakannya curam bgt, kyk naek roler coaster. Terlihat dibelakang Kak Raka agak kesulitan nanjak nya. Kak Raka semangat!!

11.02pm. Kita tiba di desa Kidang Pananjung, Cililin. Kak Oka langsung mem-briefing kami. Aku dan Lia kebagian nginap di rumah Pak Yoyo. Setelah sampai di rumah Pak Yoyo, kita langsung tidur karena capek bgt.

Hari kedua di desa Kidang Pananjung. Aku seharusnya bangun jam 4.45, tapi malah bangun jam 5.35. Hahaha… Langsung aja solat Shubuh. dan ngobrol2 ama si ibu Yoyo. Si Ibu punya anak, namanya Nurqaidah, kelas 2 SD. Cerita2, ternyata dulu disitu pernah longsor, dan akses pendidikan menengah dan atasnya agak susah. Jam 9am, Aku dan Lia pamit, karena kita mau survey.

Kumpul di rumahnya Bu Oon, tempat Yuyun dan Mirna menginap. Disana udah ada Babang, Haikal, dan Kak Yanwar. Kita di briefing dulu ama Kak Raka dan Kak Oka. Gimana caranya survey, dan data-data apa aja yang diperlukan.

Ada 4 aspek yang perlu diperhatikan

  1. Kondisi fisik lingkungan
  2. Sarana prasarana
  3. Ekonomi
  4. Pendidikan

Kita pecah menjadi dua tim. Tim satu -Kak Raka, Kak Oka, Yuyun, dan Lia- ke arah bawah. Tim dua -Aku, Mirna, Babang, Haikal dan Kak Yanwar- ke arah atas. Kita jalan… dan menemukan Bapak2 yang lagi menggali pasir. Ternyata pasirnya itu dijual. jalan lagi, kita menemukan sekelompok ibu2 yang lagi panen padi. Kita kesana dan ngobrol2. Ternyata panennya gagal. Sempat membuat aku merenung dan berpikir ketika reaksi si ibu waktu tau panennya gagal. Ia justru bersyukur.

Aku kembali instrospeksi diri. Selama ini, aku ketika tidak mendapatkan yang diinginkan, sering kali merasa tidak puas dan berkeluh kesah. Sementara si Ibu, panennya gagal, dan itu mempertaruhkan kelangsungan hidupnya, ia masih bisa bersyukur. Kenapa aku yang masih diberi limpahan nikmat belum bisa seperti itu, belum bisa bersyukur. Bersyukur hanya jika merasa perlu bersyukur. Padahal setiap detik dalam kehidupan kita, Allah berikan nikmatnya.

“Fabiayyiaalaa’irabbikumatukadzzibaan, Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

Mungkin saja kita merasa tidak beruntung, tapi coba kita bersyukur dengan apa yang ada dan melihat sisi positifnya, seperti yang dilakukan si Ibu yang gagal panen.

Aku juga sempat merasa salut, ketika mendengar cerita Devi, anak SMP disana yang harus berjalan selama 2 jam untuk sampai ke sekolah. Ia berangkat dari rumah jam 5 pagi dan baru sampai di sekolah jam 7. Begitu sulitnya akses pendidikan menengah disini. Sementara aku yang jarak kampus-kosan yang deket itu, kadang2 masih merasa malas untuk kuliah.

12.00pm. Siang, Dzuhur. Kita solat dulu di mesjid Al Falah sambil istirahat. Disamping mesjid itu ada rumah. Si pemilik rumah menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat istirahat sejenak. SI pemilik rumah ternyata Sekretaris Desa. Wah, kebetulan, kita langsung ngobrol2.

2.30pm. Kita berjalan menuju Masjid di dekat rumah Pak Yoyo. Kita semua udah janjian disana, mau ada evaluasi dan briefing untuk nanti malam. Semua cerita tentang apa yang sudah mereka dapatkan. Warga disana jujur, sifat sosialnya masih kental banget. Coba kita komparasikan dengan kehidupan di kota. Pernahkah kita peduli dengan keadaan sekitar? Pernahkah kita perhatikan kondisi tetangga kita? Dan Kak Oka berkata, “Sebenarnya yang memiliki peradaban yang mana, sih? Disini atau di kota?” Dan itu pertanyaan retoris yang kita sendiri bingung dibuatnya.

6.00pm. Maghrib. Ada anak2 yang ngaji di mesjid. Pak Yoyo yang mengajarkan mereka mengaji. Aku salut dengan Pak Yoyo. Ia setiap hari mengajar anak2 dengan sabar walaupun tidak digaji. Aku baru sadar kalau ruang tamu Pak Yoyo itu hanya seluas kamarku di rumah. Betapa ia sangat sabar, walaupun kerjanya hanya serabutan.

7.00pm. Isya. Dan kita mulai mobilisasi ke rumah Pak Ajo untuk pertemuan warga. Dijalan, Kak Oka cerita macam2, yang membuatku merasa agak takut.

  • Cerita horror 1. Bajing Loncat.

Bajing loncat disini bukan hewan, tapi sebutan untuk manusia. Ternyata disini kalo malam ada orang yang suka duduk di tepi tebing, dan kalo ada orang yang lewat ia langsung loncat dan melakukan perampokan. Terbayang ketika malam itu aku dan teman2 naik pick up, dan tiba2 si bajing loncat itu datang dan melakukan tindakan kriminal kepada kami. Hiii…

  • Cerita horror 2. Sang Pembonceng.

Cerita ini mungkin udah jadi cerita dimana2. Ini cerita masyarakat disini. Katanya kalo malam kita pergi sendirian naek motor, ntar suka ada yang mbonceng di belakang. Atau kalo ga, suka ada yang narik-narikin motornya dari belakang… Yah, cerita klasik..

  • Cerita horror 3. Anak ke 17

Kak Oka sempat mewawancarai seseorang. Katanya,”Ibu saya punya anak 17, dan 17nya meninggal semua”. Semuanya meninggal? Jadi yang ngobrol dengan Kak Oka siapa??? btw, itu cuma salah ngomongnya Kak Oka, maksudnya 16 meninggal, tinggal dia sendiri..

  • Cerita horror 4. Korban mutilasi

Ketika sudah sampai di rumah Pak Ajo, Kak Oka, Faris, Babang, Haikal, dan Kak Yanwar cerita klo mereka menemukan korban mutilasi di desa ini, ditemukan kaki. Aku terkejut, dan agak ga percaya, abisnya mereka ceritanya sambil ketawa2 gitu. Tapi kata mereka itu bener. Kak Raka aja waktu ngeliat malam kemaren sempat terkaget2, dan waktu paginya ngeliat kaget lagi (ceritanya Kak Oka). Kak Raka udah pulang sih, jadi ga bisa ditanyain. Mereka menawarkan untuk menemani ngeliat. Aku penasaran. Akhirnya aku dan Mirna ngeliat ditemani dengan Babang dan Kak Oka. Aku mulai deg2an.

Setelah melihat, ternyata reaksi ku, “Oh, Kak, itu celananya ya, itu sepatunya ya?” Ha.. ternyata reaksi ku bukannya menjerit atau beristighfar. Mungkin karena terlalu deg2annya. Aku benar2 melihat celananya yang berwarna biru dan sepatunya yang warna hitam. Hanya kaki, tidak ada badan ataupun kepala.


Hue hue hue. Ternyata itu boongan, itu properti Agustusan.

Sudah malam dan pak kadesnya belum datang. Akhirnya kami pulang dan beristirahat. besok abis Shubuh ngumpul di lapangan di sebelah rumah kosong deket rumahnya Pak Iing. Dan kita akan pulang jam9.

Hari ketiga. Aku bangun ketika Adzan Shubuh. Sholat dan pergi ke lapangan. Kami evaluasi, apa aja yang udah didapat disini.

9.29am. Kita udah siap2 dan akan naik pick up untuk kembali ke Bandung.

10.04am. Kita udah sampai di jalan raya, dan kita akan naek angkot. Tiga kali nyambung angkot.

12.30am. Aku sampai di kamarku dan beristirahat…..

Semoga apa yang ku dapat selama disana bisa kutularkan kepada teman yang lain. Semoga aku bsa lebih peka dengan keadaan sekitarku. Semoga semua yang kulakukan hanya untuk mencari ridho Allah semata.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: