Pelatihan Memasak – Revitalisasi Gelap Nyawang

25 Jan

Acara Pelatihan Memasak yang diadakan paga hari Ahad, 25 Januari 2009 ini merupakan pelatihan ketiga dari serangkaian  kegiatan proyek Revitalisasi Gelap Nyawang Pengabdian Masyarakat KM ITB. Melalui pelatihan ini diharapkan pedagang Gelap Nyawang dapat meningkatkan teknik memasak mereka dan menambah kreativitas serta nilai tambah pada masakan mereka.

Acara ini bekerja sama dengan ICA (Indonesian Cheff Association) dan melibatkan 6 cheff nya pada acara ini, yaitu cheff Sugiharta, Cheff Wedi, Cheff Toni, Cheff Deden, Cheff Dewo, dan Cheff Muamar. Para cheff ini telah berpengalaman baik nasional maupun internasional di bidang kuliner.

Konsep acara ini adalah diawali dengan pemaparan materi singkat tentang Hygiene oleh cheff Toni, Infrastruktur Sanitasi oleh cheff Deden, dan pelayanan konsumen oleh Chef Wedi. Setelah pemaparan materi ini, dilanjutkan dengan demo masak di taman Ganesha oleh cheff Dewo dan cheff Sugiharta sementara cheff Wedi, cheff Toni, cheff Muamar dan cheff Deden inspeksi ke warung-warung Gelap Nyawang. Menu-menu yang didemo oleh cheff adalah ‘Daging Lapis Berempah’, ‘Ayam Ungkep’, ‘Cap Cay’, dan ‘Daging Sapi Lada Hitam’. Kemudian evaluasi untuk pedagang setelah warung mereka di inspeksi.

Banyak sekali usulan dan saran dari cheff-cheff tersebut, mereka juga memberikan motivasi pada para pedagang Gelap Nyawang untuk terus maju dan mandiri. Yang menjadi perhatian pada kegiatan ini adalah sedikitnya peserta pelatihan dari pedagang Gelap Nyawang. Hal ini mungkin disebabkan belum optimalnya pendekatan yang dilakukan oleh panitia terhadap para pedagang, sehingga walaupun sudah berkeliling Gelap Nyawang sebanyak dua kali, yang datang tetap belum dari seluruh warung.

Selain dari masyarakat, masalah juga ada di antusiasme massa kampus. Forum massa atau forum silaturahmi atau rapat pimpinan atau apapun namanya akan rame ketika membicarakan BHP, BBM naik dansebagainya. Namun, mengapa justru keramean itu tidak terlalu tampak ketika membicarakan perihal pengabdian masyarakat. Padahal pengabdian masyarakat termasuk dalam salah satu tridharma perguruan tinggi dan nilai-nilai ITB.

Mungkin hal inilah yang perlu dievaluasi. Beda input maka output yang didapat akan berbeda pula. Semakin kesini, input mahasiswa ITB bisa dibilang kalangan menengah keatas, hanya segelintir orang yang berada pada keadaan menengah kebawah. Sense untuk peduli pada sesama itu hanya timbul ketika kaderisasi, namun menguap begitu saja ketika kaderisasi selesai. Oleh karena itulah bentuk pengabdian masyarakat itu harus kontinu, harus ada fungsi pengawasan. Proses pengabdian masyarakat itu sendiri baru akan berhenti jika tujuan awalnya benar-benar tercapai. Misalnya pada proyek Revitalisasi Gelap Nyawang, salah satu tujuannya adalah menjadikan Gelap Nyawang sebagai tujuan wisata kuliner kota Bandung. Proyek ini baru akan selesai jika Gelap Nyawang sudah benar-benar bisa menjadi wisata kuliner yang menjadi mascot kota Bandung, dengan parameter-parameter tertentu.

Karena posisi mahasiswa yang berada di tengah, tidak diatas dan tidak dibawah, maka mahasiswa harus bisa sinkron ke dua kalangan ini. Gerakan mahasiswa keatas juga harus dibarengi dengan gerakan mahasiswa kebawah, gerakan yang konkrit

MySpace

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: