Kenyamanan Berorganisasi dan Sense Keberaktifitasan

17 Jun

Dalam suatu organisasi pasti terdapat model atau profil kader yang diinginkan. Di dalam MTM profil kader itu tercantum di dalam GDK. Profil kader ini harusnya memuat visi, misi, jalan hidup, dan nilai-nilai yang membentuk paradigm, mentalitas dan karakter kadernya. Profil yang ada di dalam GDK adalah profil ideal, kita juga harus menyadari bahwa setiap anggota MTM memiliki keunikan individunya masing-masing yang membedakan antaa satu anggota dengan anggota yang lain. Oleh karena itu, model atau profil kader ini harus memadukan antara idealita dengan realitas. Misalnya Firman, Sofyan, dan Babang memiliki visi, misi, jalan hidup, dan nilai-nilai yang sama dalam beraktifitas di MTM, namun mereka juga memiliki kompetensi, keterampilan, dan bakat  yang berbeda-beda. Keadaan kesamaan dan perbedaan ini seharusnya membuat MTM semakin memiliki banyak warna untuk menyempurnakan pelanginya. (*no offense memasukkan nama2 ini ke dalam contoh..*)

Namun, kesempurnaan individu saja tidaklah cukup, karena individu ini akan melangkah lebih jauh lagi, yaitu ke system, masyarakat dan menjadi partisipan disana, dalam hal ini system kita adalah MTM. Untuk melebur dalam system, tiap-tiap individu ini harus bersinergi, berkerja sama dan terintegrasi untuk mendukung semua proker MTM menuju tujuan MTM dan MTM yang lebih baik, sehingga kesempurnaan system tercapai. Jika seorang kader MTM telah mencapai kesempurnaan sistemnya, hal selanjutnya yang diperlukan adalah bertahan dalam kesempurnaan itu sampai akhir hayatnya di system itu, yaitu ketika lulus. Karena nilai seseorang tidak hanya ditentukan di awal ketika ia bergabung dengan system, tapi juga ditengah ketika ia menjadi staff dan BP, dan diakhir ketika ia menjadi swasta dan akhirnya lulus. Untuk itu diperlukan kekonsistenan. Dan hal yang membuat kita konsisten adalah efisiensi dan efektivitas dalam menjalani kehidupan di system tersebut. Dalam MTM, seorang kahim tidak dapat melakukan semuanya sendirian, sementara output yang diinginkan maksimum tapi energy kita terbatas. Oleh karena itu hal yang bisa kita lakukan adalah menghemat energy dengan cara pembagian peran sesuai kompetensi. Dengan membidangi kompetensi, maka tiap individu akan menjadi ahli. Misalnya Adit PT kompetensinya pada bidang kaderisasi, maka perannya adalah menjadi anggota PSDA dan ia akan menjadi seorang ahli kaderisasi. Contoh lainnya misanya Gian yang kompetensinya adalah monitoring, maka perannya adalah DPA, dan ia akan menjadi DPA yang ahli. Jika semua orang menempati posnya masing-masing, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki tugas dan perannya masing-masing, maka tujuan besar bersama dapat dicapai.

Untuk mencapai tujuan bersama itu, ada penjenjangan yang harus dilakukan, yaitu afiliasi, pastisipasi, dan kontribusi. Akan sangat tidak tepat sebenarnya jika anggota baru langsung ditanyai mengenai kontribusi,  karena ia mungkin bahkan belum berafiliasi terhadap MTM.

Afiliasi adalah langkah awal seorang individu yang ingin masuk kedalam system tersebut dan memperbarui komitmennya terhadap system tersebut. Proses afiliasi ini kita lakukan dalam bentuk inisiasi. Dalam proses ini anggota baru MTM diperkenalkan tentang tujuan dan orientasi MTM, visi misi, dan hal mendasar lainnya, agar memiliki afiliasi terhadap MTM.

Langkah selnjutnya adalah partisipasi. Proses partisipasi ini kia lakukan dalam bentuk staffing dan magang. Jika seorang anggota MTM sudah memiliki afiliasi terhadap MTM maka ia akan berpartisipasi dalam setiap kegiatan MTM. Ia akan mensinergiskan dirinya dengan MTM. Dan ia akan menjadi faktor pembawa manfaat dan pencegah disinegrasi bagi MTM, karena sebelumnya ia telah memiliki afiliasi terhadap MTM. Partisipasi ini juga akan terjadi jika ekspektasi anggota baru yang telah berafiliasi tidak berlebihan. Anggota aru yang telah berafiliasi namun ekspektasinya terlalu jauh, akan sulit diajak untuk berpartisipasi. Oleh karena itu, kondisi realita MTM juga harus dipaparkan kepada anggota baru yang ingin bergabung ke dalam MTM. Selain itu, para kader MTM sudah seharusnya menjaga nilai-nilai yang baik yang dimiliki MTM, sehingga terdapat sinergisasi antara anggota baru dan kader MTM yang sudah lebih dahulu menjadi anggota MTM.

Setelah seorang kader MTM berafiliasi dan berpartisipasi, langkah selanjutnya adalah kontribusi. Pada tahap ini seorang kader MTM yang telah terintegrasi dengan lingkungannya, akan berusaha untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas keberaktifitasannya di MTM. Hal ini dilakukan dengan mempertegas posisi dan perannya. Proses ini kita lakukan dalam bentuk menjadi staff tetap, dan BP id kepengurusan MTM. Dengan mempertegas posisi dan perannya sesuai dengan kompetensinya, ia dapat memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya untuk mencapai tujuan bersama MTM.

Dengan melewati tahap-tahap tersebut seorang kader MTM telah memiliki kekuatan pribadi, social, dan profesionalisme. Ia kuat secara pribadi karena telah memiliki paradigm, karakter dan mentalitas yang jelas. Kuat secara social karena ia telah memiliki kesadaran partisipasi yang kuat pada system dan ia kuat secara profesionalisme karena ia telah berkontribusi sesuai dengan kompetensinya.

Realita yang ada sekarang adalah para kader MTM telah kehilangan perannya. MTM tidak akan pernah kehilangannya perannya, karena perannya adalah abadi, namun peran kadernya adalah temporer. Hal ini bisa disebabkan karena penjenjangan itu belum sempurna dilakukan. Misalnya, anggota baru yang bahkan belum berafiliasi dituntut untuk berkontribusi. Ia bahkan belum menyadari untuk apa ia berkontribusi, hal inilah yagn akan menjadi bom waktu yang akan menjadi distorsi antara nilai MTM dan  nilai kader MTM.

Karena saat ini kita sedang mempersiapkan tahap awal untuk anggota baru MTM, maka focus kita adalah bagaimana caranya agar anggota baru tersebut memiliki afiliasi terhadap MTM. Salah satunya adalah dengan menimbulkan kebanggaan.

Teman2 panitia inisiasi MTM 2009, semangat yaa!!!

*inpirasi dari bukunya Anis Matta : ‘Delapan Mata Air Kecermelangan’

One Response to “Kenyamanan Berorganisasi dan Sense Keberaktifitasan”

  1. Okaoka June 18, 2009 at 2:05 pm #

    Aku punya blog,,,,tapi gak bisa sebagus ini…
    Jadinya cuma memanfaatkan notes di Pesbuk…

    Anyway,,
    Afiliasi – partisipasi – kontribusi
    Dasar pak anis matta
    Ada yang kurang nih, yang namanya kader itu kaya cawan, yang cuma bisa memiliki ketiganya kalau senantiasa diisi, ilmu penting lho untuk menjaga kadar keberterimaan materi, kadar keberterimaan organisasi, dan kadar keberterimaan sosial. Selain itu, dengan menambahkan nilai kedalam tiap individu, kita memberikan kunci pada setiap kader untuk memilih masa depannya sendiri.

    Jadi, lebih lengkap kalau :
    Inkubasi-afilisasi positif-partisipasi-kontribusi-Inkubasi

    “Singa gak akan bisa terbang seperti merpati”
    “Rajawali tidak akan menggonggong seperti anjing”
    “Karena tiap tiap mereka adalah kader asuhan Ilahi, yang memenuhi panggilan takdirnya sendiri”

    Karena sangkar emas tidak akan membuat rajawali jadi burung nuri n_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: