Sudden Journey to Semarang

10 Nov

Weekend ini akan kuhabiskan bersama Mama dan abang jeje. Setelah malam sebelumnya aku terlena dengan kehadiran bang jeje, hari berikutnya aku akan ke Semarang bersama Mama dan si Abang. Rencana ini pun baru tercetus H-1, dan flight langsung diurus. Ceritanya ada nikahan sepupu disana, dan karena Mama sedang ada di Jakarta jadi ceritanya mau sekalian.
Mama berangkat bareng Abang dari rumah, dan aku berangkat sendirian dari kosan setelah malam sebelumnya nonton fanmeet bang jeje. Kemaleman kalo aku pulang ke rumah Abang, ga enak.
Kami tiba di Semarang sekitar pukul 11, dan langsung naik taxi menuju rumah sepupu di Jl. Cempedak Raya. Setibanya disana bertemu keluarga besarnya Mama. Seru juga, rame. Sayangnya mereka akan segera pergi ke rumah Pakde Tyo di Kendal sehingga kami bertiga ditinggal di rumah.
Akhirnya setelah solat dan makan siang kami pamit dan berencana jalan-jalan sendiri. Fortunately si Abang udah pernah ke Semarang, Mama tidak bisa diandalkan karena sudah duapuluh tahun lebih dia tidak menginjakkan kakinya di tanah Semarang ini.
Setelah puas berbelanja oleh-oleh, kami mengunjungi Lawang Sewu atas permintaanku. Aku selalu suka dengan situs sejarah, sampai-sampai si Abang pernah nyeletuk, “Kok kamu seneng bgt museum sih”.
Beberapa bangunannya sedang dalam proses renovasi. Lawang Sewu dulunya adalah kantor kereta api. Ternyata dibuat berpintu banyak adalah agar aliran angin terus terjadi sehingga tercipta AC alami, dan bunker underground berfungsi sebagai pendingin. Namun bunker ini dialih-fungsikan ketika Jepang menguasai bangunan ini. Bunker dijadikan penjara bawah tanah, nah, inilah yang kemudian membuat Lawang Sewu menjadi terkenal karena ke-angker-annya.
Dengan bantuan guide kami mengunjungi tiap ruangan yang ada disana, sambil diceritakan mengenai sejarah Lawang Sewu. Ruangannya unik-unik. Kemudian dibawa ke lantai dua, ada aula, dan ruangan-ruangan lain. Sebenarnya Pak Guide ingin mengajak kami ke lantai tiga, namun Mama sepertinya sudah capek sehingga hanya aku yang penasaran yang naik, dan kemudian Abang menyusul. Di lantai tiga ini hanya ruangan yang berfungsi sebagai plafon agar udara panas tidak langsung ke bawah, tapi terperangkap disana. Di lantai tiga ini ada garis-garis lapangan voli yang kata si Pak Guide dulunya dipakai buat main kalo lagi ada gathering karyawan.
Kemudian kami turun da ditawarkan untuk ke bunker. Etapi ternyata bayar lagi, guidenya beda dan harus pake boot, karena air menggenang hingga betis. Karena ada embel2 ‘bayar lagi’ itu, aku urung ke bawah dan hanya melihat dari atas. Gelap bgt! Sebenernya penasaran, tapi karena Mama takut (mungkin karena cerita2 ttg ruang bawah tanah itu) akhirnya kami mengakhiri tour Lawang Sewu.
Berikut kami makan dan beristirahat sambil menunggu flight yang delay di mall seberang, ntah apa namanya.

lawang sewu dari luar


interior lawang sewu


interior lawang sewu


si pintu seribu


i love this one. didesign sengaja seperti gerbong kereta


lawang sewu dari luar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: